Komitmen Negara di Tengah Keterbatasan Anggaran, Begini Sikap BNN Kota Mojokerto terhadap Kegiatan Sosialisasi Bahaya Napza


detik-pena.my.id
|| JOMBANG, – Keputusan BNN Kota Mojokerto untuk tidak berkontribusi baik secara dana maupun pengiriman narasumber penyintas, menuai beragam respons di masyarakat. Pernyataan resmi yang disampaikan Erick Kurnia Apriantomo selaku Kasium, menyebutkan efisiensi anggaran serta alasan keamanan sebagai dasar utama ketidakterlibatan tersebut.

Erick menyampaikan permohonan maaf atas ketidaksanggupan lembaganya mendukung kegiatan itu secara materi. Menurutnya, penghematan keuangan yang diterapkan kantor pusat, menjadi kendala utama sehingga tidak ada alokasi dana yang bisa disalurkan untuk keperluan yang dimaksud.


Lebih lanjut, pihaknya juga berhalangan menghadirkan mantan pengguna narkoba untuk berbagi kesaksian di hadapan publik. Hal itu bukan tanpa alasan, sebab pertimbangan keamanan dan keselamatan jiwa narasumber, menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar.

Langkah tersebut memunculkan pandangan beragam di kalangan penyelenggara maupun warga yang sangat menantikan kehadiran lembaga negara itu. Sebagian pihak memaklumi kendala birokrasi dan keuangan, tetapi sebagian lain menilai kehadiran moral justru yang paling dibutuhkan saat ini.

Penyelenggara kegiatan dari detik-pena.my.id, tetap menghargai keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Erick secara langsung. Sekalipun tanpa dukungan dana dan narasumber tambahan, rencana penyuluhan bahaya NAPZA tetap berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Jorkfan Elisa Gilbet, selaku pimpinan redaksi menegaskan bahwa tujuan utama acara adalah kepedulian sosial, bukan menunggu bantuan dari pihak BNN Kota Mojokerto. Menurutnya, tugas pemberantasan narkoba adalah tanggung jawab semua elemen bangsa, sehingga tidak boleh terhenti hanya karena satu pihak belum bisa ikut serta. 

Masyarakat yang diwawancara, mengaku kecewa namun tetap mengerti alasan teknis yang dihadapi instansi terkait tersebut. Mereka berharap kendala itu bersifat sementara, dan ke depannya, sinergi antara BNN Kota Mojokerto dengan masyarakat sipil makin terjalin erat.

Pakar sosial menilai, kondisi itu menjadi cermin nyata bagaimana tantangan pencegahan narkoba berjalan di lapangan saat ini. Di satu sisi ada gerakan warga yang kuat, sedangkan di sisi lain dukungan kelembagaan terindikasi terhambat masalah internal.

Kasus ini, menjadi bukti nyata bahwa peran media dan masyarakat sipil justru makin terasa berat bebannya dalam kondisi yang seperti itu. Ketidakhadiran lembaga resmi, dinilai bisa memicu persepsi bahwa perhatian negara terhadap masalah tersebut belum maksimal di tingkat akar rumput.

Kendati demikian, panitia tetap optimis materi yang disiapkan bersama pihak kepolisian dan RS Kristen Mojowarno sudah sangat lengkap. Kehadiran aparat penegak hukum dan tenaga medis, menurutnya sudah dianggap cukup mewakili peran negara dalam memberikan edukasi yang benar kepada publik.

Lebih lanjut, pernyataan Erick itu kembali menjadi bahan evaluasi tersendiri bagi panitia dalam merencanakan kegiatan serupa di masa mendatang. Komunikasi yang lebih awal dan rinci, disinyalir akan dilakukan agar harapan kolaborasi bisa terwujud di kesempatan berikutnya.

Penting dipahami oleh publik bahwa alasan keamanan bagi penyintas adalah hal yang sangat mendasar dan harus dihargai sepenuhnya. Karenanya, mantan pengguna berhak mendapatkan perlindungan agar tidak menjadi sasaran ancaman atau tekanan dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

"Dana memang dibutuhkan, tetapi semangat sukarela dan kepedulian warga terbukti mampu menggerakkan acara besar ini. Hal itu membuktikan bahwa tolak ukur keberhasilan sosialisasi tidak selalu dihitung dari keterlibatan BNN atau besarnya anggaran yang dikeluarkan," ungkap Jorkfan, Pimred detik-pena.my.id. 

Kondisi ini juga mengingatkan kembali akan pentingnya peran media sebagai jembatan informasi antara kebijakan pemerintah dan realitas masyarakat. Detik-pena.my.id bertekad tetap menyampaikan fakta apa adanya tanpa memihak atau menyalahkan pihak manapun dalam pemberitaan ini.

Masyarakat berharap, efisiensi anggaran itu tidak mengurangi kinerja pengawasan dan penindakan yang menjadi tugas pokok BNN di lapangan. Kehadiran fisik petugas di lokasi rawan, dianggap jauh lebih krusial dibandingkan sekedar keikutsertaan acara. 

Kisah ini menjadi pelajaran berharga bahwa sinergi lintas sektor tidak selalu berjalan mulus sesuai harapan awal. Namun, hambatan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti berbuat baik demi menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba.

Sosialisasi bahaya penggunaan NAPZA pada Jum'at 29 Mei 2026, tetap akan berlangsung meriah dan penuh makna meski tanpa andil dana maupun narasumber dari BNN Kota Mojokerto. Keberhasilan acara itu, nantinya akan menjadi bukti bahwa kekuatan masyarakat adalah pondasi pertahanan yang tak tergoyahkan.

Pihak penyelenggara tetap membuka peluang luas bagi BNN untuk berperan serta dalam program lanjutan yang sedang disusun mendatang. Komunikasi ini, akan terus dijaga baik supaya di masa depan kerjasama yang lebih kokoh dapat terjalin demi tujuan mulia bersama.

Berita ini disampaikan secara berimbang dengan memuat penjelasan lengkap dari pihak BNN Kota Mojokerto maupun pandangan penyelenggara serta warga. Sikap independen senantiasa dijaga ketat supaya publik mendapatkan gambaran utuh tanpa ada yang merasa difitnah atau dituduh sembarangan.

Pada akhirnya, perjuangan mewujudkan wilayah bersih narkoba adalah jalan panjang yang butuh dukungan semua pihak. Sekecil apapun kontribusi yang bisa diberikan, akan tetap bernilai besar jika sejalan dengan tujuan mulia menyelamatkan masa depan bangsa.

(Tim/Red) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama